Padahal kita tak bertemu secara tiba-tiba. Padahal kita saling mengenal. Padahal kamu cuma bercanda dan aku yang larut dalam candaan spesial tersebut. Awalnya aku tak paham apa yang kamu maksudkan, tapi malam-malam berganti, detik-detik berlalu, lagi-lagi hal bodohnya terjadi. Ketika sudah lama waktu berjalan aku baru tau, aku baru sadar. Aku selalu ada untuk kamu, walau tak pernah kusebutkan. Maaf aku mungkin terlalu percaya diri atas hal ini, namun aku juga tidak paham bagaimana membendung perasaan ini. Aku pikir kamu bercanda, tapi ternyata jokes kamu itu kena di bagian hatiku.
Tetiba aku merasakan lagi jatuh. Aku coba mengulur waktu agar bisa berkomunikasi, tapi ternyata gini ya, susah banget ! Hahaha. Di momen lain aku berhasil membangun komunikasi kecil, namun aku pula yang menghancurkannya. Yah aku, dasar aku. Aku masih saja seperti aku yang dulu, walaupun sudah naik 20%. Kalau saja kamu enggak seperti kulkas 2 pintu, pasti ceritaku sudah sampai ke pulau Papua dan bisa sampai di seperempat palung mariana. Tapi kenyataan berkata lain, kamu katakan kenyataannya bahwa kamu masih menyimpan sepucuk cerita usangmu dalam hati. Aku tahu bagaimana perasaanmu kok, aku pernah merasakan hal bodoh tersebut, maaf aku sebut bodoh karena aku tau akhirnya pahit namun aku tetap menolak pahit dan kusebut akhirnya bisa kok seperti film drama percintaan thailand yang sering kutonton (cuih).
Makanya kusebutkan kalau kamu cari aku, aku ada kok disini. Aku juga masih disini aja. Jika aku angkot, ya aku masih setia ngetem nunggu penumpang. Walaupun penumpangnya penuh, tetap aja pintu depan angkotnya masih kosong. Maunya kamu yang duduk di bagian depan ! Haha. Kalau 'haha' ku terasa menyindir, itu hanya sebuah ungkapan perasaanku saja. Kamu tetap semangat ya memandang masa depan, aku yakin masa depan kamu indah. Aku masih disini, yuk kita menatap masa depan lalu menggapainya.
Tapi sampai tulisanku ini hilang, tandanya kamu juga sudah terukir sebagai prasasti indah hati ini.